Ketika Harus Memilih

0
728

Oleh: Lenni Ika Wahyudiasti

“Bagaimana kabar anak-anak yang sedang berlomba di Jakarta, Ustaz? Ada kabar baikkah?” tulisku dari Bumi Nyiur Melambai selepas berucap salam pembuka mengawali percakapan online-ku dengan guru pendamping Hilmy, anak keduaku, sore itu.

Congratulation! Selamat, Bu! Alhamdulillah, Ananda Hilmy meraih medali perunggu dalam Babak Final Kompetisi Matematika Nalaria Realistik tingkat Nasional hari ini,” tulis Ustaz Bagus menjawab pertanyaanku. Tak lama kemudian, sosok lelaki berkacamata yang berdiri di samping Hilmy bersama medalinya ini tergambar jelas dalam foto yang dikirimkannya sebagai bukti kemenangan Hilmy.

Lantunan puji syukur segera terlisan dari bibirku. Alhamdulillah, doaku untuk anak lelakiku yang sejak kecil gemar sekali bejibaku dengan logika dan utak-atik deretan angka sulit bertajuk soal matematika ini dikabulkan Allah. Buru-buru kukirimkan berita bahagia ini kepada suamiku di Surabaya agar lelaki tercinta ini pun merasakan kebahagiaan yang sama mendengar prestasi yang diraih jagoan kami sore ini.

“Selamat ya, Mas! Semoga Mas Hilmy senantiasa menjadi kebanggaan orang tua dan diberkahi ilmunya. Sukses terus ya, Sayang … Siapa bilang, wanita karier nggak bisa mengantarkan anak-anaknya menjadi orang sukses ya, Mbak? Aku suka gemes kalau denger orang-orang bilang begitu ..,,” komentar salah seorang sahabatku di duna maya kala prestasi Hilmy ini kuunggah di akun media sosialku.

“Wow … memangnya ada ya, Mbak, opini yang menghubungkan kesuksesan seorang anak dengan peran ganda emaknya?” tulisku menanggapi sembari menambahan ikon wajah tersenyum penuh makna setelahnya.

“Biasalah, Mbak. Selalu saja ada yang berpendapat kalau ibu bekerja itu nggak becus ngurus anak, enteng aja nyerahin segala urusan anak ke asisten rumah tangga karena sibuk mengejar karir plus beragam stigma negatif lainnya. Selalu ada pro dan kontra soal ini ‘kan di masyarakat? Makanya, tugas emak-emak berperan ganda kayak kita ini nih, Mbak, untuk menepis stigma negatif itu … Hehehehe ….”

Aku tersenyum membaca komentar gemas berbau curcol sahabatku ini. Hmmm … benarkah ada stigma tak positif yang harus kami sandang tatkala seorang perempuan tetap memutuskan bekerja di luar rumah setelah berumah tangga?

Mendadak anganku melayang ke hari-hari penting ketika kuputuskan ‘tuk tetap menjadi pegawai negeri sipil sesuai harapan kedua orang tuaku sekian dasa warsa silam ….

***

Selepas SMA di awal tahun sembilan puluhan, aku diterima di perguruan tinggi kedinasan yang dikelola oleh Departemen Keuangan. Kuliah gratis dan di semester empat langsung diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di departemen yang sama. Perguruan tinggi kedinasan favorit ini dulu bernama Program Diploma Keuangan-Sekolah Tingi Keuangan Negara (STAN). Setelah Departemen Keuangan beralih nama menjadi Kementerian Keuangan, perguruan tinggi yang kampusnya berlokasi di kawasan Bintaro ini ikut berubah nama pula menjadi Politeknik Keuangan Negara (PKN-STAN).

Rasanya senang sekali berkesempatan melanjutkan pendidikanku di kampus kedinasan ini karena dengan begitu aku tak perlu repot-repot mencari pekerjaan selesai kuliah. Bapak dan ibuku pun bangga, anak sulung mereka langsung menyandang status sebagai abdi negara selepas pendidikan, segera berpenghasilan dan bisa membantu membiayai pendidikan keempat adiknya.

Tak kusangka, suasana di kampusku saat itu sangat religius. Di sinilah aku mulai mengenal dan belajar banyak tentang Islam, agama yang telah kuanut sejak lahir. Kujemput hidayah-Nya di kampus yang terletak di selatan ibukota ini dengan keputusan berhijab menjelang kelulusanku tiga tahun kemudian.

Dari berbagai kajian keagamaan yang kuikuti, baru kupahami bahwa dalam Islam seorang perempuan amat dimuliakan. Ketika masih lajang, ia menjadi tanggung jawab ayah dan saudara laki-lakinya. Setelah menikah, suaminyalah yang berkewajiban menafkahi dan menghidupinya dengan penuh kasih sayang. Sejatinya, tak ada kewajiban baginya untuk bekerja mencari nafkah. Tugas utamanya setelah menikah adalah mengurus rumah tangganya.

Memahami hal ini, beberapa temanku berani mengambil keputusan untuk mengundurkan diri karena tak ingin bekerja di luar rumah selepas kuliah. Sebagian di antara mereka bahkan berani menikah muda lantaran telah bersua dengan lelaki berakhlak baik yang datang meminang. Sebuah keputusan yang luar biasa!

Aku salut pada keberanian mereka, tapi terus terang, aku tak berani mengambil keputusan yang sama. Jujur, aku khawatir mengecewakan kedua orang tuaku bila memilih ‘keputusan berani’ itu saat itu! Begitu besar harapan dan kebanggaan mereka kepadaku, hingga kuputuskan untuk tetap menyelesaikan pendidikanku dan menjadi PNS setelahnya. Keputusan yang bertahan hingga kini karena ternyata suamiku tetap mengizinkanku bekerja setelah kami menikah.

***

“Ibuk, aku ada tugas bikin kliping tentang lingkungan hidup sama PR Matematika.”

Hilmy kecil menyambutku di depan pintu sore itu.

“Kapan harus dikumpulkan, Le?”

“Klipingnya besok, kalau PR Matematika besoknya lagi.”

“Duh, kok mendadak begini ngasih tahunya, Sayang?”

“Baru keingetan, Buk.”

“Ya, sudah, Ibuk mandi dulu, ya? Setelah sholat Maghrib dan tilawah bareng, kita langsung cari bahan kliping itu di koran-koran bekas yang ada. Mas Hanif ada tugas, nggak?” Giliran Hanif, sulungku yang kutanya.

“Ada, Buk. Bikin naskah berita untuk dibacain besok pagi,” sahut Hanif.

Wah, mendadak juga!

Buru-buru kutuntaskan aktivitas rutinku sepulang kantor lalu kupenuhi janjiku pada dua jagoan kecilku itu untuk mendampingi mereka menyelesaikan tugas-tugas sekolah.

“Ibuk, bacain celita,” rengek Hanin, gadis kecilku dalam kalimat cadelnya, tak mau kalah dari kakak-kakaknya.

“Dik Hanin bobok di pangkuan Ibuk dulu ya,” bujukku pada si bungsu yang juga menuntut perhatian. “Nanti kalau Ibuk udah selesai nemenin Mas Hanif dan Mas Hilmy belajar, Dik Hanin bobok sama Ibuk di kamar sambil Ibuk bacain buku cerita. Mau ya?”

Jadilah malam itu aku berjibaku membantu anak-anak menyelesaikan tugas-tugas mereka sambil memangku gadis kecilku. Kucarikan gambar-gambar untuk tugas kliping Hilmy dari tumpukan koran bekas di gudang, sembari membantu Hanif menyiapkan naskah berita yang harus dibacakannya besok di sekolah.

Begitulah aktivitas keseharianku saat masih membersamai mereka di Surabaya. Sebagai konsekuensi dari memilih tetap bekerja setelah menikah, mau tak mau aku dituntut untuk lebih cermat membagi waktu dan perhatian, lebih bijak menentukan skala prioritas kegiatan, lebih sigap menyerap ilmu dan pengetahuan, plus lebih disiplin menjaga kesehatan agar senantiasa sehat dan kuat menjalani peran ganda sebagai ibu rumah tangga dan ibu bekerja. Karena bagaimanapun, aku tetap ingin menjadi madrasah terbaik bagi anak-anakku, tetap ingin menjadi ibu yang cerdas tempat mereka bertanya tentang banyak hal, tetap ingin menjadi perempuan hebat di balik keberhasilan suami dan anak-anakku kini dan nanti. Bukan hal yang mudah memang, sebab butuh upaya luar biasa untuk mewujudkannya dalam keterbatasan waktu dan tenaga yang kupunya. Terlebih kini aku tak selalu bisa membersamai mereka lantaran sejak beberapa bulan silam aku memperoleh amanah ‘tuk bertugas di tanah seberang. Tak setiap pekan aku bisa pulang ke Surabaya, namun aku beruntung karena anak-anak masih didampingi ayahnya yang kini kembali bertugas di Surabaya setelah sekian tahun kehilangan kesempatan mendampingi proses tumbuh-kembang anak-anak kami dari hari ke hari lantaran harus menjalani konsekuensi bersedia bertugas di seluruh penjuru negeri. Alhamdulillah, suamiku pun berbesar hati bertukar peran membersamai dan mendidik anak-anak selama aku tak berada di rumah.

Kendati demikian, aku tetap berprinsip bahwa pendidikan dan pengajaran anak-anak merupakan tanggung jawabku sebagai ibu dengan dukungan penuh ayah mereka. Proses tumbuh-kembang mereka tetap menjadi perhatian utamaku. Alhamdulillah, selama ini aku pun berkesempatan memberikan ASI eksklusif kepada ketiga buah hatiku. Bekerja tak menghalangiku untuk memberikan nutrisi terbaik itu untuk mereka. Butuh tekad dan upaya kuat untuk mewujudkannya, karena setahuku banyak pula yang tak paham betapa hebatnya nutrisi dalam ASI bagi anak-anak kita. Karena dangkalnya pemahaman, ibu yang tak bekerja pun terkadang enggan memberikan ASI eksklusif kepada buah hati mereka dengan berbagai alasan.

Meski tetap memilih bekerja sebagai abdi negara, hingga kini aku tetap meyakini bahwa profesi utamaku tetaplah seorang ibu rumah tangga. Setinggi apapun jabatanku di kantor, kedudukanku tetap sebagai seorang istri di rumah tangga suamiku. Sebesar apapun penghasilanku, aku tetaplah seorang istri yang harus taat dan patuh dalam kepemimpinannya selama tak mendurhakai Sang Pencipta. Karenanya, di mana pun aku berada, apapun yang kulakukan tetap harus atas izin dan ridha suamiku sebagai kepala keluarga.

Hidup adalah pilihan di setiap episodenya. Kita tak perlu berdebat, mana yang lebih terhormat, wanita bekerja atau ibu rumah tangga yang hanya beraktivitas di rumah yang disediakan suaminya. Menurutku, tak ada yang lebih hebat ataupun lebih terhormat. Keduanya adalah pilihan yang tersedia untuk kita dengan segenap konsekuensi yang mengiringi. Semua bergantung kepada niat awal kita saat menjatuhkan pilihan dan bagaimana kita mempertanggungjawabkan pilihan ini di hadapan-Nya di hari akhir nanti.

Selamat Hari Kartini! Mari bersiap meneladani semangat juang perempuan Jepara ini ‘tuk senantiasa mengembangkan potensi diri dan berikhtiar menebar kebaikan di setiap peran dan profesi yang terpilih ‘tuk kita jalani ….

 

—oo000oo—.

BAGIKAN