Perkembangan Triwulanan Perekonomian Indonesia

0
259

Pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) rill Indonesia meningkat menjadi 5,2 persen yang sebelumnya sebesar 5,1% pada triwulan ke-3. Pertumbuhan PDB riil ini didorong oleh investasi yang makin tinggi dan ekspor neto, sejalan dengan berlanjutnya pemulihan harga komoditas, pertumbuhan global dan arus perdagangan yang tinggi, dan kondisi pembiayaan global yang relatif masih mendukung. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga juga sedikit menguat, karena terjadi pelemahan harga barang-barang konsumen di Triwulan ke-4.

Harga komoditas yang lebih tinggi berkontribusi terhadap pertumbuhan investasi dan ekspor di Triwulan ke-4. Defisit neraca transaksi berjalan melebar menjadi 2,2% dari PDB di Triwulan ke-4, dari 1,7% PDB di kuartal ketiga, terutama didorong oleh surplus perdagangan barang yang lebih rendah karena impor barang modal yang lebih tinggi untuk investasi mengimbangi harga ekspor yang lebih tinggi.

Meskipun harga komoditas lebih tinggi, inflasi harga konsumen utama menurun menjadi rata-rata 3,5% dari tahun ke tahun di Triwulan ke-4 tahun 2017 dari 3,8% di Triwulan ke-3, yang mendukung konsumsi rumah tangga. Inflasi menurun di Triwulan ke-4 karena inflasi harga makanan turun ke tingkat terendah dalam 14 tahun terakhir.

Investasi publik juga mendukung pertumbuhan, tetapi kebijakan fiskal dibatasi karena defisit menyempit di tahun 2017. Total belanja pemerintah pada tahun 2017 tumbuh dengan laju tercepat dalam 3 tahun ini, didukung oleh belanja modal, belanja barang, dan belanja sosial yang lebih tinggi. Sementara total penerimaan pajak, jika pungutan dikecualikan dari program Amnesti Pajak sebenarnya bisa menunjukkan peningkatan rasio pajak dibandingkan dengan dengan tahun 2016, yang mencerminkan upaya reformasi pajak yang sedang berlangsung.

Tingkat kemiskinan resmi jika dihitung dengan menggunakan garis kemiskinan nasional, Indonesia mencapai 10,1% di bulan September 2017(0,6 poin persentase lebih rendah dari pada bulan September 2016). Namun demikian, pengeluaran dalam pemilu mendatang dan harga komoditas yang lebih baik diperkirakan akan memberikan dorongan independen, yang mengakibatkan adanya peningkatan yang sedang dalam pertumbuhan konsumsi rumah tangga selama dua tahun ke depan.

Risiko terhadap perkiraan perekonomian antara lain melambatnya perdagangan global, volatilitas dan melambatnya kosnumsi rumah tangga. Untuk mencapai pertumbuhan inklusif, Indonesia harus belanja dengan lebih baik lagi dan membelanjakan lebih banyak di bidang-bidang prioritas, dan untuk mengumpulkan penerimaan yang lebih banyak lagi dengan cara-cara yang efisien dan ramah pertumbuhan. (Indonesia Economic Quarterly Report, March 2018)

BAGIKAN