Meneladani Kehidupan Berintegritas Tokoh-Tokoh Antikorupsi Negeri Ini

0
1812

Meneladani Kehidupan Berintegritas Tokoh-Tokoh Antikorupsi Negeri Ini

Judul         :Dari Hatta Sampai Hoegeng (Kisah Tokoh-Tokoh Paling Jujur dan Pantang Korupsi)

Penulis  ​    :Dadi Purnama Eksan

Penerbit​    :OCTOPUS Publishing House

Cetakan​    :Pertama, 2014

Tebal​        :xiv + 153 halaman

ISBN        :978-602-17685-8-7

Peresensi​  :Lenni Ika Wahyudiasti

Berita tentang sejumlah pejabat dan tokoh penting negeriini yang terjerat   Operasi Tangkap Tangan (OTT) KomisiPemberantasan Korupsi (KPK) seperti tak pernah berhentimenghiasi halaman utama di beragam media. Kepala daerahatau wakilnya, anggota dewan, tokoh masyarakat, pengusahabesar silih berganti tersandung kasus korupsi berbagai proyekpembangunan. Bahkan di sebuah kota di Pulau Jawa, lebihdari 80% anggota dewan perwakilan rakyatnya terjerat OTT lembaga anti rasuah tersebut. Telah menguapkah rasa maludiri untuk melakukan korupsi berjamaah? Atau, benarkahkeberadaan ‘orang jujur dan berintegritas di negara kitaterancam punah?

Ketika banyak pejabat berlomba memperkaya diridengan memanfaatkan jabatan, sosok sederhana puluhantokoh penting yang kisah integritasnya ditulis dalam bukuyang kita bedah kali ini bagaikan anomali. Jenderal HoegengImam Santoso dan Mohammad Hatta menempati porsipenulisan terbesar dalam buku bersampul muka foto keduanyatersebut. Kisah keteguhan memegang prinsip jujur dan tanpa kompromi Hoegeng dituangkan sepanjang 23 halaman, sementara kisah kejujuran Hatta terekam dalam narasisepanjang 13 halaman. Bisa jadi, lantaran inilah, namakeduanya tersemat dalam judul yang dipilih oleh DadiPurnama Eksan, sang penulis.

Pada 2 Oktober 1971, Hoegeng dipensiunkan. Beberapapihak menilai ia sengaja dipensiunkan untuk menutup kasusSum Kuning. Hoegeng berhenti menjabat sebagai KepalaKepolisian RI pada 1971. Waktu itu ia berumur 49 tahun. Taklagi memiliki pekerjaan, Hoegeng langsung menemui ibunyadi rumah. Sambil sungkem, ia berkata, “Saya tidak punyapekerjaan lagi, Bu.”

Kalau kamu jujur melangkah, kamu masih bisa makannasi sama garam,” kata sang bunda. Terbukti Hoegengmewarisi sifat orang tuanya dalam hal kejujuran. (hal 34-35)

Harus diakui, kebersahajaan para pejabat dan tokohmasyarakat yang dikisahkan dalam buku yang dicetak pertama kali pada tahun 2014 ini bakal membuat kita tersekaprasa haru dan mungkin berurai air mata. Bagaimana tidak? Kendati menduduki jabatan penting atau menjadi tokohmasyarakat yang terpandang di negeri ini, kehidupan merekaamat jauh dari kemewahan, bahkan cenderung serbakekurangan. Sepenggal paragraf kisah kesederhanaan Haji Agus Salim yang selama hidupnya puluhan kali pindahkontrakan ini menjadi buktinya. Ketika salah satu anaknyameninggal dunia, Salim tak punya uang untuk membeli kainkafan. Maka, ia membungkus jenazah anaknya dengan taplakmeja dan kelambu. Ia menolak pemberian kain kafan baru.”Orang yang masih hidup lebih berhak memakai kain baru,” ujarnya. “Untuk yang mati, cukuplah kain itu.” (hal. 53)

Dari puluhan tokoh yang prinsip pantang korupsinyaditulis di buku ini, terselip pula nama mantan MenteriKeuangan, Mar’ie Muhammad. Meski kisah tentangnya hanyatertuang di tiga halaman, ketegasan‘Mr. Clean kelahiranSurabaya, 3 April 1939 ini terekam dalam momen ketika iamemimpin sendiri pengukuran rumah Presiden Soeharto di Jalan Cendana sebagai bagian dari pengumpulan data untukPajak Bumi dan Bangunan (PBB). Saat itu ia masih menjabatsebagai Direktur Jenderal Pajak sebelum akhirnya diamanahimenjadi Menteri Keuangan dalam kabinet berikutnya. Takpeduli presiden atau pengusaha, soal keharusan membayarpajak, tidak ada  pengecualian. Paling tidak  selama  saya   menjadi  dirjennya,” ujar Mar’ie tegas. (hal. 104)

Tak hanya soal kejujuran dan integritas para tokohpanutan yang dikupas di buku yang dikemas dengan bahasayang lugas dan mudah dipahami ini. Pesan moral bahwapendidikan antikorupsi harus dimulai dari tengah keluargajuga tersurat di sini. Kita pun akan menemukan pelajaranuntuk saling memaafkan dan tak memelihara dendam dalamsejumlah kisah. Salah satunya tersirat dalam kisah kehidupan Hamka. Menurut Hamka, meniadakan dendam dapatdilakukan dengan mengenang kebaikan-kebaikan orang yang telah menyakiti kita.

Apakah Hamka tidak dendam kepada Bung Karno yang telah memenjarakannya sekian lama? Hamka menjawabdengan lemah lembut, “Hanya Allah yang mengetahuiseseorang itu munafik atau tidak. Yang jelas, sampai ajalnyadia (Bung Karno) tetap seorang muslim. Kita wajibmenyelenggarakan jenazahnya dengan baik. Saya tidakpernah dendam kepada orang yang menyakiti saya. Dendamitu termasuk dosa. Ada lagi jasa besar Soekarno untuk umatIslam di Indonesia. Dua buah masjid, satu di Istana Negara, Masjid Baiturrahim, dan satunya lagi masjid terbesar di Asia Tenggara, yaitu Masjid Istiqlal.” (hal. 43)

Masih banyak lagi pelajaran yang bisa kita petik darikehidupan sederhana para tokoh yang pantas dikenangsebagai tokoh paling jujur dan antikorupsi ini. Mulai dariintegritas Hoegeng yang tak bisa dibeli hingga setelah pensiunpun ia tetap miskin dan harus menjual lukisan untukmenghidupi keluarganya, Mukti Ali yang meninggalkanjabatannya dan pulang hanya dengan membawa satu koperberisi pakaian, atau Mohammad Natsir yang meninggalkanistana hanya dengan naik sepeda.

Pendek kata, buku terbitan Octopus Publishing House initak boleh dilewatkan. Membacanya hingga tuntas adalahpilihan cerdas untuk mengawali upaya kita membangunintegritas. Kisah-kisah yang sarat makna di dalamnya dapatmembantu kita menumbuhsuburkan perilaku jujur dan budayapantang korupsi tanpa jeda. Selamat membaca dan memaknaiHari Anti Korupsi yang kita peringati hari ini. Mari bergegas menumbuhkan dan menjaga integritas sebagai kontribusiterbaik kita untuk Bea Cukai Makin Baik, KemenkeuTepercaya dan Indonesia yang Maju dan Bermartabat.

BAGIKAN