Cukai Vape

0
378

Tahukah kamu,  semenjak 1 Juli 2018 lalu Direktorat Jenderal Bea Cukai memutuskan untuk memungut cukai terhadap likuid rokok elektrik (vape) sebesar 57 persen sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor PMK-146/PMK.010/2017 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau.

Mungkin sebagian besar masyarakat sudah banyak mendengar tentang kontroversi vape sampai akhirnya diakui dengan dibubuhkannya pita cukai pada likuid vape. Hal ini secara tidak langsung memberikan eksistensi bagi para pengguna vape.

Kebiasaan merokok di Indonesia cenderung bertambah dengan masuknya rokok elektronik yang saat ini banyak di konsumsi kalangan muda. Rokok elektrik sendiri telah ada sejak tahun 1963 namun baru dikembangkan secara serius pada tahun 2003 dan tahun 2006 mulai dijual ke seluruh dunia, sedangkan di Indonesia baru masuk pada tahun 2014.

Kontroversi keberadaan vape sendiri sudah sering diperdebatkan, bahkan pemerintah telah membuat kebijakan agar vape menjadi barang yang diawasi dan dibatasi pemakaiannya. Saat itu pemerintah melalui Kementerian Perdagangan menilai perlunya menghentikan peredaran vape karena dianggap akan banyak merugikan kepentingan umum, khususnya membuat kesejahteraan petani tembakau terganggu.

Rencana ini tentunya sangat mengkhawatirkan bagi pengguna vape maupun para penjualnya. Melalui diskusi dan perdebatan panjang, akhirnya pemerintah memutuskan vape dapat tetap digunakan, namun akan dikenakan tarif cukai pada cairan kimia yang digunakan sebagai bahan utama rokok elektronik tersebut.

Kebijakan ini disambut dengan antusias oleh pengguna vape maupun para penjualnya. Vapor Squad Jakarta menilai penerapan cukai terhadap e-liquid ke depannya akan memajukan industri vape di Indonesia.

Kondisi ini rupanya sejalan dengan harapan pemerintah, karena penerimaan dari cukai e-liquid baru berjalan beberapa bulan sudah mencapai 200 milyar. Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Heru Pambudi yang mengatakan saar ini adalah masa penertiban sehinggan diharapkan tidak ada lagi yang tidak berpita. Untuk e-liquid walaupun kalah jauh dari penerimaan cukai hasil tembakau, namun mengingat kehadirannya di tanah air baru seumur jagung maka jumlah Rp200 milyar sudah menunjukkan perkembangan yang positif.

Terkait dengan kepatuhan, sejauh ini menurut Heru Pambudi sangat baik, karena respon pengusaha yang sangat positif dimana secara komunitas sudah menyadari dan kini membeli pita cukai,namun demikian otoritas Bea Cukai tidak akan segan-segan jika ada yang menyalahi aturan.

Dengan aturan ini, pengusaha liquid vape memiliki kepastian untuk berbisnis vape. Bahkan pegusaha juga percaya diri bisa mengekspor liquid vap dari dalam negeri. Bahkan permintaan sudah ada dan kini masih dalam proses untuk ekspor. Kondisi ini tentu tidak disia-siakan oleh Bea Cukai, adanya peluang ekspor akan didukung sepenuhnya dengan memberikan insentif fiskal berupa pembebasan bea masuk untuk bahan baku dan pajak impornya.

Dengan resminya vape sebagai barang kena cukai dan menjadi barang yang dibatasi dan diawasi, membuat para vapers merasa tenang dan nyaman mengkonsumsinya. Karena selama ini vape dianggap barang ilegal dan dapat merusak kesehatan.

Nah berbicara mengenai kesehatan, tentunya semua rokok konvensional maupun elektronik memiliki dampak negatif pada kesehatan.

Sebagai barang baru yang memiliki cukup banyak peminat, penggunaan vape tentunya tidak dapat dilihat dari satu sisi saja, secara kesehatan sudah tentu akan merusak organ tubuh, namun dari sisi perekonomian hal ini melahirkan objek cukai baru yang akan otomatis akan menambah penerimaan negara dengan jumlah yang tidak sedikit. Bagaimana kita menyikapi vape ini tentunya dikembalikan kepada diri masing-masing.

BAGIKAN