Aku, Kau dan Integritas

0
420

Dalam setiap kesempatan baik acara apel bersama, rapat maupun briefing yang dilakukan oleh kepala kantor ataupun atasan langsung/kepala bidang /kepala seksi selalu didengung-dengungkan tentang “INTEGRITAS”. Hal ini tertuang dalam nilai-nilai kementerian keuangan yaitu integritas, profesionalisme, sinergi, pelayanan, dan kesempurnaan. Integritas menempati urutan nomor satu.

Kalau diibaratkan sebuah bangunan, integritas ini adalah pondasi bangunan. Bila pondasi bangunan ini dibuat dari batu yang kuat, semen dengan kualitas no.1, pasir pilihan dapat dipastikan bangunan ini akan tahan terhadap goncangan gempa dan terpaan angin. Apalah artinya bangunan cantik, mewah dan indah tapi dibangun dengan pondasi yang rapuh? Tentu tidak akan bertahan lama. Suatu saat akan rubuh hanya tinggal menunggu waktu untuk ambruk, berkeping-keping. Bangunan ini diibaratkan sebagai organisasi, perusahaan, badan hukum ataupun juga bisa pribadi orang.

Beberapa contoh bibit perilaku yang tidak berintegritas/disintegritas antara lain siswa sekolah yang menyontek saat ujian. Adapula pemain badminton kampung yang setelah kena smess bilang bolanya keluar padahal sebenarnya masuk. Adapula pedagang yang mengurangi timbangan. Adapula seorang anak muda makan 3 bakwan tetapi bayarnya cuma 2 bakwan. Menyedihkan, kasihan tukang warungnya. Bisa dibayangkan ketika mereka tumbuh besar nanti akan seperti apa.  Siswa yang menyontek apabila menjadi seorang ilmuwan, pasti akan menjual ilmu itu untuk kejahatan. Pedagang yang curang bisa jadi penipu ulung. Atlet yang sering melakukan kecurangan dapat didiskualifikasi. Dan yang suka bohong ketika makan di warung besarnya nanti akan menjadi begundal dan pencuri kelas berat. Akhirnya menyesal berkepanjangan. Bisa jadi masuk penjara.

Secara teori, integritas adalah kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Pikiran, hati  dan perbuatan harus sejalan seirama. Adapula yang menyebut sebagai kejujuran yang dilandasi dari hati nurani. Sebenarnya ada pengertian yang lebih membumi, yang lebih mudah dipahami, mulai dari tukang becak sampai dengan presiden, dari pegawai yang masih baru sampai yang sudah mau pensiun. Integritas itu adalah “TIDAK TERIMA DUIT”. Maksudnya adalah tidak menerima uang dari luar yang sah/resmi. Tidak menerima sogokan, suap, fee dan seterusnya yang bertentangan dengan peraturan disiplin/kode etik. Juga tidak boleh menerima pemberian berupa barang/hadiah/bingkisan. Sebagai pegawai bea cukai, integritas ini adalah sebuah prinsip yang harus dipatuhi. Dipegang erat. Tidak boleh tergoda oleh tawaran-tawaran disintegritas.

Sejarah membuktikan bahwa bangsa China pernah diserang oleh bangsa Mongol dan akhirnya bisa dikuasai padahal sudah dibangun tembok China. Apakah tembok China dihancurkan? Tentu saja tidak. Tembok China masih kokoh berdiri. Lantas apa penyebabnya? Ternyata para penjaga tembok China disuap oleh tentara mongol. Uang telah mengalahkan keperkasaan penjaga tembok China. Apalah artinya panglima perang mumpuni dengan sejuta jurus maut tetapi lemah dengan uang. Sangat disayangkan. Tidak berguna.

Kawan, ada beberapa tips untuk membangun integritas. Mudah untuk dipraktekkan, antara lain :

  1. Selalu bersyukur terhadap nikmat Tuhan.

Apa yang telah kita miliki selama ini, baik berupa penghasilan atau hal apapun patut kita syukuri. Untuk menjadi pribadi yang bersyukur tengoklah orang yang ada di bawah kita. Mari kita lihat wong cilik seperti petani, nelayan, pedagang kaki lima. Bagaimana mereka berjuang mencari nafkah untuk kehidupan sehari-hari. Tidak perlu kita lihat orang lain yang lebih tinggi penghasilan dari kita, ingat “rumput tetangga lebih hijau”. Padahal sama saja.

2. Gaya hidup sederhana

Maksudnya adalah jumlah pengeluaran tidak boleh melebihi dari pendapatan. Jangan sampai besar pasak daripada tiang. Jika penghasilan sebulan 8 juta, pengeluaran jangan sampai 10 juta, tekor namanya. Gunakan penghasilan bulanan untuk ditabung rutin minimal 10%, untuk zakat/infak/sedekah minimal 2,5% supaya harta berkah. Membeli barang-barang yang sesuai kemampuan, tidak dipaksakan sehingga tidak membebani keuangan. Hiduplah sederhana, apa adanya.

3. Membeli barang karena kebutuhan bukan karena keinginan.

Sifat manusia itu banyak keinginan, penginnya ingin dituruti saja. Kalau mau dituruti keinginan, tidak akan ada habisnya sampai maut menjemput. Ingat lagunya soundtrack film Doraemon “aku ingin begini, aku ingin begitu…ingin ini, ingin itu banyak sekali …” kira kira itulah sifat manusia. Keinginan banyak tetapi kemampuan terbatas. Jika kita membeli barang coba kita lihat memang butuh atau cuma keinginan saja. Kita harus bisa bedakan.

4. Memaknai bahwa rejeki itu bukan hanya uang.

Pada hakekatnya rejeki itu tidak hanya uang/harta/materi seperti yang diasumsikan kebanyakan orang. Semua kebaikan/kemaslahatan yang kita nikmati terhitung sebagai rejeki. Badan kita sehat, anak-anak sehat, keluarga rukun damai, teman yang baik hati, ilmu pengetahuan, hati yang tenang tak banyak masalah adalah juga rejeki. Bayangkan kalau sakit, berapa banyak biaya yang dikeluarkan. Bersyukurlah kita masih diberi kesehatan.

5. Berteman dengan orang berintegritas.

Pergaulan menentukan pola perilaku kita. Dengan siapa kita bergaul menentukan hati, sikap dan perbuatan. Kalau kita bergaul dengan orang yang berperangai buruk maka karakter kita juga ikut rusak, sebaliknya kalau kita bergaul dengan teman baik maka baiklah karakter kita.

6. Pembinaan Mental (Bintal)

Hadirilah kegiatan bintal di lingkungan kantor. Kegiatan ini diharapkan dapat memacu semangat integritas. Dengan siraman rohani, jiwa kita terisi nilai nilai kebaikan. Arahnya agar sikap dan perilaku kita sesuai tuntunan agama. Dampaknya adalah integritas kita makin kuat.

 

Perlu diketahui juga bahwa pendidikan yang tinggi, keahlian, pengalaman dan jabatan yang tinggi belum tentu menjamin integritas yang tinggi. Integritas tergantung dari anda sendiri. Baik buruknya integritas yang menentukan adalah anda sendiri. Anda adalah integritas. Tidak ada yang bisa merubah kecuali anda sendiri. Berubahlah untuk menjadi lebih baik. Kini saatnya aku, kau atau kita semua untuk menciptakan dan mengajak orang lain untuk menjadi orang yang berintegritas.

Mari kita satukan langkah, tegakkan integritas, demi bea cukai makin baik!

 

BAGIKAN