DEMI KAU, AKU RELA STOP ROKOK ILEGAL

0
502

Nun jauh disana, di pelosok Jawa bagian selatan. Alam yang penuh dengan bukit-bukit terjal. Di area perbukitan itu banyak ditumbuhi pohon jati yang berguguran daunnya. Agaknya cuaca akhir akhir ini tidak bersahabat, panas menyengat. Di situ ada sebuah desa yang penduduknya rukun, tenang dan damai. Rata-rata penduduk desa itu bermatapencaharian menjadi peternak, tukang bangunan, pedagang keliling atau pencari kayu di hutan, sementara anak mudanya banyak yang merantau ke kota besar.

Sastro namanya, tentunya bukan Dian Sastro bintang film yang cantik, jelita dan menawan hati. Sastro ini tidak lain adalah seorang buruh bangunan yang ulet, berbadan kekar dan tahan banting dalam situasi apapun, nampak dari raut  wajah, tangan dan kaki yang serba berotot. Namun urusan penampilan dia ingin seperti anak muda ibu kota, kacamata hitam, baju merk terkenal, celana jeans yang sengaja dirobek-robek, sneakers hypebeast, tentu saja barang koleksi dia serba kawe,kawe 1, 2, 3, 4 mungkin bisa sampai 10, dan yang penting lagi adalah murah. Kualitas tidak diperhitungkan mengingat isi kantong namun kepingin tetap tampil gaul. Tak hanya itu saja dia juga perokok merk apa saja yang penting ga bikin kantong jebol dan bikin puas.

Saat ini hatinya sedang di mabuk cinta pada seorang penjual jamu gendong yang sering lewat di depan rumahnya. Sulastri namanya.

“Jamu-jamuuuu….“ teriak Sulastri tiap pagi menawarkan jamu pada orang-orang desa. Bagi Sastro, suara itu membuat hati berbunga-bunga dan begitu merdu terdengar bahkan melebihi suaranya Nella Kharisma. Meskipun tidak begitu suka minum jamu, Sastro tetap membelinya untuk bertemu dan melihat wajah Sulastri yang mempesona. Perasaan yang sama juga dialami oleh Sulastri, dia juga cinta dengan Sastro, ibarat kata pucuk dicita ulam pun tiba. Mereka suka berkeliling bersama dengan motor butut milik Sastro. Mereka pergi nonton wayang kulit, ke pasar malam, makan bakso ataupun ke kebun binatang.

Ketika itu mereka berdua sedang berada di kebun binatang. Duduk- duduk di bawah pohon randu samping kandang buaya. Mereka istirahat setelah capek berjalan  keliling, disela- sela  obrolan, Sastro mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya. Dikeluarkan satu batang dan dinyalakan dengan korek api, asap mengebul di udara. Sulastri memperhatikan gerakan Sastro dengan seksama dan matanya tertuju pada sebungkus rokok.

“Mas, itu rokok apaan, kok tidak ada pita cukainya “ Tanya Sulastri.

Kaget Sastro ditanya seperti itu.

“Rokok apa sajalah yang penting murah” jawab Sastro.

“Itu rokok ilegal mas, jangan dibeli” kata Sulastri sambil terkejut.

Obrolan yang sebelumnya santai berubah menjadi serius. Sastro memberi tahu kalau dia membeli rokok dari sebuah warung dan harganya murah, setengah dari harga pasaran.

“Rokok ilegal adalah rokok yang tidak ada pita cukainya, rokok dengan pita cukai palsu/bekas, rokok dengan pita cukai yang bukan haknya.” sambung Sulastri.

Sepanjang karir selama menjadi tukang jamu gendong. Sulastri sebelumnya pernah berjualan keliling di kota besar. Dia banyak pengalaman, mengunjungi dari satu rumah ke rumah yang lain, menawarkan minum jamu agar masyarakat  sehat dan kuat. Pelanggan jamunya banyak dan bervariasi mulai dari tukang becak sampai dengan pejabat, ada semua, lengkap. Pernah suatu ketika ada seorang pegawai bea cukai yang minum jamu sempat ngobrol tentang rokok ilegal. Dia ingat betul kata-katanya, merugikan negara dan melanggar hukum. Dari situlah Sulastri tahu tentang rokok ilegal.

Dengan semangat Sulastri menjelaskan kepada Sastro tentang dampak rokok ilegal, antara lain karena harga yang murah,  anak anak sekolah dengan uang saku mereka bisa saja jadi pembeli rokok, ini berbahaya bisa merusak kesehatan generasi penerus bangsa. Oleh karena itu dikenakan cukai untuk pembatasan konsumsi. Harga bisa murah karena rokok ilegal tidak membayar cukai, sehingga negara mengalami kerugian.

Setelah mendengar penjelasan tentang rokok ilegal dari Sulastri, Sastro manggut manggut pertanda paham dan berjanji tidak akan membeli rokok ilegal. Bahkan Sastro akan melarang warung atau siapa saja yang menjual rokok ilegal, karena merupakan bentuk pelanggaran hukum dibidang cukai.

“Mas Sastro, janji ya, jangan main-main, stop rokok ilegal, kalo tidak kita putus ” pinta Sulastri.

Mendengar kata putus, jantung Sastro serasa mau copot. Prinsip Sastro adalah mencintai Sulastri adalah harga mati. Demi kekasihnya itu Sastro menuruti  kemauan Sulastri. Kesadaran Sastro tentang dampak rokok ilegal mulai naik, dia akan mengajak teman-temannya agar membeli rokok yang berpita cukai dan menghimbau penjual rokok di warung-warung untuk ikut menghentikan peredaran rokok ilegal.

Kawan, saat ini Bea Cukai sedang gencar-gencarnya melaksanakan operasi dengan call signGEMPUR” rokok ilegal secara masif dan berkelanjutan. Dengan dukungan masyarakat, pengusaha, dan instansi terkait, mari kita hentikan peredaran rokok ilegal.

Bila menjumpai rokok ilegal silakan hubungi Bravo Bea Cukai di 1500225 atau  kunjungi Kantor Bea Cukai terdekat dan bantu Bea cukai menjadi makin baik.

 

 

 

 

BAGIKAN