Berani Belanja, Berani Bayar Pajak Juga Ya!

0
294

             Di sebuah kampus ternama di Jawa Tengah, dua mahasiswa dan satu mahasiswi sedang asyik ngobrol di kantin sambil menyantap ketoprak, soto dan siomay. Santi, Paul dan Agung. Tiga sekawan ini berasal dari keluarga yang latar belakangnya berbeda-beda. Santi anak orang kaya yang kemana-mana diantar sopir pribadinya. Penampilannya kece tidak ada raut susah di wajahnya. Barang barang pribadinya seperti handphone, sepatu, baju, tas, bermerk terkenal semua dan pastinya mahal. Uang tidak jadi masalah alias tajir melintir. Maklum saja papanya adalah pengusaha batubara di Kalimantan.

             Lain hal dengan Paul yang berasal dari keluarga PNS, untuk masalah uang bulanan dia merasa kaya hanya diminggu pertama sampai ke-3 saja. Mulai minggu ke- 4 mulai peng-iritan dengan berbagai jurus agar uangnya bisa bertahan sampai akhir bulan. Inipun disiasati dengan banyak menghadiri acara selamatan tetangga kos, seperti yasinan atau  syukuran,  dengan harapan pulang bawa nasi kotak, lumayan buat bertahan sampai akhir bulan.

            Berbeda dengan Agung, mahasiswa ini termasuk kategori marginal. Kehidupannya sederhana atau menurut sensus BPS berada  diatas sedikit  garis kemiskinan, tetapi orang tuanya rela banting tulang menguliahkan, yang penting bisa jadi sarjana dan bisa merubah nasib keluarga menjadi lebih baik. Meskipun dari kalangan sederhana tetapi Agung ini dianugerahi Tuhan kecerdasan yang tinggi. Dia orangnya pintar, rajin dan supel. Banyak mahasiswa yang datang ke kosnya untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Hanya dengan imbalan traktiran bakso semangkok saja, Agung semangat membantu mengerjakan tugas kuliah teman-temannya sampai selesai. Makanya tempat kosnya tidak pernah sepi,  selalu ramai didatangi kawan-kawannya.

            Mereka berencana untuk liburan bersama. Jalan jalan ke Malaysia. Setelah ujian semesteran yang cukup menguras pikiran. Dan juga sebagai obat penasaran kayak apa sih Malaysia itu. Negeri Upin dan Ipin dengan kata-kata khas “betul betul betul”. Yang jadi masalah adalah biaya. Beruntung mereka punya teman Santi. Rupanya Santi ini anak yang royal, untuk tiket dan menginap di hotel dibayarin sama Santi. Santi suka jalan-jalan berdua dengan orang ini, karena mereka sudah akrab semenjak masuk kuliah pertama. Meskipun Santi anak pengusaha sukses tetapi dia bergaul dengan siapa saja, tidak pilih-pilih. Banyak mahasiswa dari berbagai latar belakang dia kenal dan tidak eksklusif. Bagi Santi, Paul adalah orang pernah dijanjiin untuk jalan jalan ke Malaysia bila tim regu basket menang di pertandingan antar kampus. Utang harus dibayar. Makanya Paul diajak. Beda dengan Agung, bagi Santi, Agung ini adalah sosok pahlawan tanpa tanda jasa yang menyelamatkan dirinya dari nilai jelek dan terhindar dari omelan papanya. Bila tidak belajar bersama Agung, nilai tugas Santi dikhawatirkan jeblog.

            Setelah mereka mendapat izin dari orang tuanya, merekapun berangkat dan berpetualang. Di Malaysia mereka berjalan-jalan ke Menara Kembar Petronas, Bukit Bintang sampai ke Genting Higland.  Mereka banyak membeli kenang-kenangan dan oleh-oleh terutama Santi yang salah satu hobinya belanja. Santi membeli banyak barang, mulai dari baju, tas, dan pernik-pernik khas Malaysia. Sedangkan Paul membeli kaos dan gantungan kunci. Agung karena irit dia hanya beli gantungan kunci saja, maklum pinter-pinter kantong cekak. Setelah mereka puas berkeliling di Negeri Jiran selama 3 hari, merekapun kembali ke Indonesia melalui Bandara Internasional Soekarno Hatta Jakarta.

            Perjalanan dari Kuala Lumpur ke Jakarta di tempuh selama 2 jam. Di terminal kedatangan Bandara Soekarno Hatta, mereka mengantri cap paspor di imigrasi. Setelah itu baru antri pemeriksaan x-ray di Bea Cukai.

“Kenapa barang saya diperiksa pak? “ tanya Santi kepada petugas Bea Cukai.

             Menurut petugas barang ini terkena jalur merah, sehingga harus diperiksa fisik. Ini merupakan tugas Bea Cukai dalam rangka community protector. Melindungi masyarakat terhadap masuk dan beredar barang barang larangan yang berbahaya bagi keamanan negara, kesehatan, moral dan lingkungan. Seperti narkoba, ganja, psikotropika, pornografi yang merusak generasi muda di Indonesia. Bayangkan jika barang-barang ini bebas masuk ke negara kita, pasti banyak korban yang berjatuhan. Berbahaya.

“ Barang ibu dikenakan pajak ya” tegas petugas Bea Cukai.

“Apa…, kena pajak, oh tidak “ teriak Santi.

Petugas merinci perhitungan pajak impornya sebagai berikut:

             Kadang penumpang dari luar negeri tidak mengetahui aturan batasan barang yang terkena pajak. Maka bagi traveller, atau orang yang suka bepergian ke luar negeri harus aktif mencari informasi di internet. Jika sudah mengetahui aturan maka penumpang yang datang tidak kaget dipungut pajak dan sudah menyiapkan sejumlah uang untuk membayar pajak.

              Santi yang wajahnya cantik jelita terus menangis hingga keluar air matanya  di depan petugas Bea Cukai. Kawan, barangkali ini adalah senjata wanita untuk meluluhkan hati laki-laki. Dan barangkali juga ini adalah air mata buaya untuk mengelabui petugas.

“Jika ibu tidak mau bayar pajak, maka barangnya kami tahan dan kami terbitkan surat  bukti  penahan, ibu bisa pulang, nanti setelah ibu membawa uang, datang lagi kesini untuk mengambil barang dengan menunjukkan surat bukti penahanan ini, jangan khawatir barang ibu disini dijamin aman…” kata petugas Bea Cukai dengan ramah dan sopan.

             Kawan, jadi petugas Bea Cukai harus kuat mental, jiwa dan raga. Terutama yang bertugas di terminal kedatangan bandara internasional. Banyak godaan di depan mata, harus tahan terhadap rayuan, apalagi rayuan wanita cantik dengan senyuman manis, inginnya tidak bayar pajak. Juga kesabaran tinggi dalam menghadapi penumpang yang marah-marah menolak membayar pajak. Sebagai petugas diperlukan seni berkomunikasi dengan mereka agar mereka sadar, memahami dan bersedia membayar pajak. Dibutuhkan juga kemampuan bahasa asing yang bagus, untuk berkomunikasi dengan warga negara asing yang baru tiba di Indonesia.

            Selain itu bekerja juga sepenuh hati namun tidak patah hati. Tetap menegakkan aturan. Penumpang dari luar negeri mempunyai sifat dan karakter yang berbeda-beda.  Ada penumpang  dengan kesadaran sendiri mau membayar pajak, ada yang marah-marah menolak pajak merasa dirinya hebat, ada yang menangis, ada juga yang pura-pura sakit, ada juga penumpang cantik dengan senyuman maut, senyuman yang mengandung sakarin alias kepalsuan belaka,  tetapi mereka itu “core of the core” nya intinya sama yaitu menolak pajak atau minta pengurangan pajak. Pokoknya campur aduk sifat penumpang ada disini, di terminal kedatangan internasional.

“Aku akan menelpon pacarku dulu, kebetulan papanya pacarku adalah pejabat tinggi di sebuah kementerian” batin Santi.

            Santi kemudian menelepon Budi, Budi adalah mahasiswa yang papanya seorang pejabat tinggi di sebuah kementerian. Harapan Santi adalah dengan menelepon Budi, bapaknya bisa membantu untuk menghindari pajak.

“ Hallo sayang, tolong dong, bantu aku sekarang juga, masa barang belanjaanku ditahan sama Bea Cukai. Minta bantu ke papa kamu dong” kata Santi

” Hallo juga Santi, kenapa sayang? Disuruh bayar pajak sama Bea Cukai? ya wajar aja dong kena pajak, memang aturannya seperti itu. Kamu tahu gak, kalo Bea Cukai itu tugasnya juga sebagai revenue collector, memungut pajak impor , udah bayar aja, uangnya masuk kas negara buat pembangunan. Gak usah pelit sama negara ah, berani belanja ya berani bayar pajak. Nanti setelah dari bandara aku traktir makan deh” bujuk Budi dalam percakapan telepon.

            Keinginan untuk mendapat bantuan dari Budi, sudah tamat. Setelah mendapat penjelasan, Santi mau mengerti dan menerima dengan lapang dada. Akhirnya dia pun membayar pajak. Kawan, kadang seseorang bisa luluh hatinya, setelah dinasehati dari orang yang disayanginya.

“Terimakasih, telah membayar pajak” kata petugas Bea Cukai.

             Petugas Bea Cukai memberikan bukti kuitansi pembayaran kepada Santi, sebagai bukti lunas pajak. Santi yang tadinya merengut dan kesal keluar dari bandara dengan rasa bangga, karena ikut andil dalam pembangunan negara.

  

BAGIKAN