Direct Call dibuka, Kini Ekspor Produk Pertanian Asal Sulut Bisa Langsung ke Jepang

0
23

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO – Pelaku usaha komoditas pertanian di Provinsi Sulut kini dapat lebih meningkatkan kinerja ekspornya ke pasar Jepang.

Pasalnya, ekspor langsung atau direct call komoditas pertanian dapat dilakukan melalui Bandara Internasional Sam Ratulangi, Manado.

Bersamaan dengan dibukanya penerbangan ekspor langsung itu, Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Manado mensertifikasi komoditas pertanian asal Sulut berupa  labu, bawang merah, sereh wangi, kunyit kencur, lengkuas, daun pandan, vanili, bunga pala, dan lada biji.

Sampel 10 komoditas pertanian unggulan Sulut ini dikirim ke Jepang menggunakan Garuda Indonesia  A330-200 dengan rute terbang Jakarta-Manado -Tokyo.

Donni Muksydayan Saragih, Kepala Karantina Pertanian Manado mengatakan, dibukanya penerbangan langsung dari Bandara Samrat ke Narita, Tokyo adalah peluang besar bagi petani dan pelaku usaha di Sulut untuk memacu kinerja ekspor. “Khususnya untuk tujuan Jepang,” kata Donni kepada Tribun Manado, Kamis (24/09/2020).

Donni menambahkan selaku otoritas karantina pertanian, pihaknya memberikan jaminan kesehatan dan keamanan produk pertanian yang dilalulintaskan baik ekspor, impor maupun antar area.

Khusus untuk ekspor, Karantina Pertanian Manado juga melakukan pendampingan kepada petani guna memenuhi  persyaratan sanitari dan fitosanitari negara tujuan dan serangkaian tindakan guna penerbitan sertifikat karantina baik Pytho Certificate (PC) maupun Health Certificate (HC).

Secara terpisah, Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil  memberikan sambutan melalui Video Conference menyampaikan, persyaratan ekspor ke Jepang sesungguhnya cukup berat dibanding negara lain.

“Di tengah pandemi Covid-19, busa melakukan ekspor langsung ke Jepang tentunya kita patut berbahagia,” ujarnya.

Jamil menambahkan, melalui pintu pengeluaran lain ekspor pertanian ke Jepang sudah cukup banyak saat ini nilainyanya mencapai Rp 4 triliun lebih.

Kini,  produk pertanian dan perkebunan dari Sulut seperti labu, sereh wangi, kunyit kencur, lengkuas, daun pandan, vanili, bunga pala, dan lada biji untuk menembus pasar Jepang secara langsung, ungkap Jamil.

“Sesuai arahan Menteri Pertanian (Syahrul Yasin Limpo) bahwa di masa pandemi ini sektor pertanian harus mampu menjadi penopang ekonomi, dan dengan terobosan yang dilakukan Sulut saat ini merupakan langkah nyata yang patut diapresiasi.” ujar Jamil.

Sebelum adanya penerbangan langsung (direct call) ke Jepang, komoditas pertanian yang akan di ekspor harus melalui Bandara Soekarno Hatta di Banten dan Bandara Ngurah Rai di Bali.

Pengiriman komoditas via Bali dan Jakatta membutuhkan waktu sekitar 24-30 jam (termasuk waktu transit) agar barang tersebut sampai ke Jepang.

Kondisi demikian tentunya tidak efisien dan juga pada berdampak pada biaya logistik yang tinggi karena waktu tempuh yang lama, kualitas barang menurun akibat lama waktu perjalanan, seringnya pembatalan ekspor yang diakibatkan tidak mendapat slot kargo maskapai penerbangan.

Adanya penerbangan langsung ini waktu perjalanan menjadi singkat dan efisien, secara letak geografis Bandara Sam Ratulangi jauh lebih dekat dengan Jepang yang waktu tempuh hanya 5,5-6 jam.

link terkait :

https://manado.tribunnews.com/2020/09/24/direct-call-dibuka-kini-ekspor-produk-pertanian-asal-sulut-bisa-langsung-ke-jepang

https://m.mediaindonesia.com/read/detail/347387-direct-call-dibuka-ekspor-pertanian-sulut-bisa-langsung-ke-jepang

Perdana, Gubernur Olly Launching Direct Call Ekspor Hasil Perikanan Sulut ke Jepang

Perdana, Tuna-Lingkuas Bramakusu Dikirim ke Jepang

Wujudkan Mimpi Masyarakat Sulut, Gubernur Olly Dondokambey Luncurkan Direct Call Ekspor

Pasar Ekspor Baru ke Jepang Terbuka, Peluang Besar bagi Petani dan Pelaku Usaha di Sulut

Olly Dondokambey Lepas Perdana Hasil Perikanan Sulut Langsung ke Jepang

https://www.medcom.id/foto/ekonomi/nbwjaoxN-sulut-ekspor-perdana-hasil-perikanan-ke-jepang

BAGIKAN