“PENINDAKAN 4 KONTAINER ROKOK ILEGAL”

0
158
Metal square container isolated on background

Tulisan oleh: Natanael Ignasio Ronoko

Tema: “Bea Cukai Makin Baik”

Mengikuti lomba karya penulisan inspiratif dalam rangka memperingati Hari Bea Cukai ke-74.

PENINDAKAN 4 KONTAINER ROKOK ILEGAL

“Tolong pak, jangan dulu dilaporkan ke atasan……..”
-Cecep (pemilik rokok ilegal)-

Bitung, 27 Juni 2017.

Saya ingat betul kondisi ruangan seksi P2 BC Bitung saat itu sedang kosong karena sedang libur cuti bersama Idul Fitri. Yang berada di ruangan hanya saya dan Ibnu Try Sunaryo yang saat itu masih CCPNS alias OJT. Salah satu tugas rutin saya adalah menganalisa manifes kapal yang akan bongkar di Pelabuhan Bitung untuk mendeteksi ada atau tidaknya kontainer berisi rokok illegal dan pada saat itu kapal yang tiba adalah KM. Oriental Ruby nomor voyage 1709N. Secara singkat cara saya menentukan indikasi kontainer rokok ilegal yaitu menganalisa manifes dari pihak pelayaran dari ratusan container yang ada dalam manifes menjadi beberapa kontainer yang memenuhi kriteria rokok illegal kurang lebih sebagai berikut: berat 9-12 ton, asal Surabaya, pemberitahuan general cargo / barang campuran, identitas ekspedisi serta kriteria lainnya. Selanjutnya yang memenuhi kriteria atensi dari hasil analisa manifes kami endus satu persatu menggunakan indera penciuman sendiri sampai ketemu kontainer yang berbau rokok. Yang tidak berbau rokok tentu saja dihapus dari daftar atensi dan yang berbau rokok akan dicari siapa pemiliknya. Selain itu saya juga memiliki kontak distributor rokok resmi seperti Djarum, Sampoerna, Bentoel dan lainnya yang selalu mengirimkan data pengiriman kontainer mereka. Jadi apabila ketemu kontainer yang memenuhi kriteria analisa, berbau rokok dan tidak masuk dalam data laporan distributor rokok resmi kemungkinan 80% pasti isinya rokok ilegal. Dan cara tersebut sudah terbukti berhasil karena sebelumnya kami sudah melakukan penindakan 3 kontainer rokok ilegal masing-masing satu kontainer pada bulan Juli 2016, bulan September 2016 dan bulan Maret 2017 dengan total jumlah barang sekitar 12 juta batang dan potensi kerugian negara yang diselamatkan sekitar 4,5 miliar rupiah.

Kapal KM. Oriental Ruby tiba di Pelabuhan Bitung dengan membawa sekitar empat ratusan kontainer asal Surabaya-Jakarta. Diantara empat ratus kontainer tersebut ada satu kontainer nomor MRTU2048169 yang dari hasil analisa manifes dan pengendusan bau terindikasi berisi rokok ilegal. Saat itu saya langsung menghubungi PT. Meratus Lines selaku pihak pelayaran kontainer dan PT. Salam Pasific Indonesia Lines selaku pihak pelayaran kapal untuk menanyakan kontak PT. Altrans Cargo Manado selaku perusahaan ekspedisi kontainer tersebut. Singkat cerita setelah saya menghubungi PT. Altrans Cargo Manado untuk menanyakan identitas pemilik container saya ditelepon oleh orang yang mengaku pemilik barang bernama Cecep (identitas disamarkan). Si Cecep mengakui bahwa kontainer tersebut berisi rokok ilegal merek “PLUS” dan meminta saya agar tidak melaporkan hasil analisa saya kepada atasan dengan menawarkan uang sebesar Rp35.000.000 beserta janji akan memberikan setoran setiap ada pengiriman container lain di kemudian hari. Mendengarkan tawaran tersebut sontak pikiran saya langsung berkecamuk antara baik dan jahat, surga dan neraka. Iblis dalam diri saya berbisik “bro ini pengiriman lokal dan informasi ini belum ada yang tau jadi cukup dengan pura-pura bodoh tidak melakukan apa-apa bisa dapat 35 juta instan dan pasti tidak akan ada jejak kejahatan”. Tetapi jauh dalam lubuk hati saya ada malaikat yang mengingatkan sumpah saya sebagai PNS dan nasehat orang tua saya yaitu ketenangan hidup lebih penting dari pada harta kekayaan. Jujur saat itu sebagai manusia biasa yang memiliki keinginan duniawi saya merenung 24 jam untuk menentukan sikap apakah melaporkan hasil analisa saya kepada atasan atau menerima tawaran dari si Cecep.

Pada tanggal 28 Juni 2017 sekitar pukul 12.00 WITA saya mengambil keputusan yang hingga saat ini saya rasa benar yaitu melapor kepada atasan. Sesuai perintah atasan pada saat itu langsung dilakukan penindakan. Setelah mendapatkan perintah saya dan Sdr. Ibnu bersama dengan pegawai lain yang menyusul datang ke kantor langsung berkoordinasi dengan pihak pelayaran dan Pelindo untuk melakukan penindakan atas kontainer tersebut. Setelah diperiksa pada keesokan harinya kontainer tersebut berisi 4.208.000 (empat juta dua ratus delapan ribu) batang rokok merek “PLUS” dilekati dengan pita cukai ilegal dan potensi kerugian negara yang diselamatkan sebesar Rp1.409.680.000 (satu milyar empat ratus sembilan juta enam ratus delapan puluh ribu rupiah). Barang bukti langsung kami amankan di gudang KPPBC TMP C Bitung.

Pada tahun itu saya mendapatkan penghargaan dari Kepala Kantor Wilayah Sulawesi. Memang penghargaan tersebut tidak bisa saya uangkan dan penghasilan saya tidak sebesar tawaran yang diberikan oleh Si Cecep, selain itu sebagai lulusan D1 saya membutuhkan waktu lebih lama untuk mengembangkan karir di organisasi ini tetapi hingga hari ini segala kebutuhan hidup saya cukup terpenuhi dengan gaji dan tunjangan yang halal. Dan yang paling penting saya sangat bahagia masih bisa diberikan kesempatan untuk bekerja dengan tenang di kampung halaman. Saya rasa itu sudah lebih dari cukup menjadi alasan untuk memberikan seluruh pikiran dan tenaga saya demi kemajuan organisasi.

#BeaCukaiMakinBaik.

*Juara 1*

BAGIKAN