“SYUKUR, ITU PENTING!”

0
94
Thank you lettering. Hand drawn inscription. Calligraphic text can be used for greeting cards, postcards, posters, banners

Tulisan oleh: Bety Yulia Lestari

Tema: “Bea Cukai Makin Baik”

Mengikuti lomba karya penulisan inspiratif dalam rangka memperingati Hari Bea Cukai ke-74.

SYUKUR, ITU PENTING!

“Izin Komandan, izin senior dan rekan-rekan”

Yaa…., seperti itulah yang seringkali terucap dari mulut saya sejak akhir tahun 2017.

Sebut saja saya Iraf, masih terhitung pegawai baru di DJBC ini. Sebelum di DJBC saya menggeluti dunia pendidikan selama kurang lebih 4 (empat) tahun. Sejak kuliah saya sudah bekerja, apalagi ketika baru masuk di dunia perkuliahan Ayah saya mendapat serangan stroke dan tidak ada lagi yang bisa diandalkan di rumah kecuali punggung saya, jadi bagi saya sudah terbiasa harus memeras keringat demi sesuap nasi bagi saya dan Ayah Ibu di rumah. Masih melekat semua kisah perjuangan saya hingga menjadi bagian dari keluarga DJBC, dari harus melakukan perjalanan pulang pergi Surabaya-Yogyakarta, hingga uang tersisa Rp10.000 dan tidak cukup untuk ongkos pulang. Panjang, namun bukan itu yang ingin saya ceritakan sekarang, melainkan tentang kesehatan jiwa saya sejak di Bea Cukai, terutama menjadi bagian dari Tim Keuangan.

Sejak masa orientasi, kami Si Anak-Anak baru di DJBC ini banyak diberikan pengetahuan dasar. Awalnya ya memang mudah-mudah saja, hanya harus selalu ingat bahwa kata “izin dan siap” adalah kunci.  Siapa sangka, di kantor baru ini saya menjadi bagian dari Tim Keuangan dan akhirnya bertemu dengan Suami saya. Dunia berputar terasa begitu lambat ketika menjadi bagian Tim Keuangan. Saya lulusan SMK, dan kuliah jurusan Bahasa, menghitung dan memproyeksikan angka begitu sukar rasanya. Terlebih senior yang harusnya melakukan transfer ilmu, harus menjalani D3K di STAN. Alamak rasanya, harus meraba semuanya. Belum lagi ketika ada penilaian dari pusat, mana kami tahu? Tapi apakah tidak dikerjakan, ya tetap dikerjakan.

Bisa dibilang saya ini cinlok dengan Suami saya, role model saya bekerja di keuangan adalah dia. Bagaimana tidak, dia yang memang lulusan Bea Cukai asli, benar-benar memberi contoh untuk saya, kaget juga sebenarnya saya, merasa jadi dapat orientasi lagi dari senior.

Semua yang saya alami selama 3 (tiga) tahun terakhir ini terasa seperti naik roller coaster, dari bahagia, sedih, senang, stress, mau pulang kampung saja, hingga mau bolos kerja saja karena sudah sumpek lihat pekerjaan.

“Kamu stress di keuangan? Kenapa gak minta pindah aja?”. Banyak sekali orang yang berkata begitu, nyatanya memang stress namun juga menikmati prosesnya. Ya walaupun sempat merasa tidak adil, tapi ya inilah tanggung jawab.

Di malam akad nikah saya, Suami saya bahkan masih mengerjakan LPJ Bendahara dan LK Semester I. Ingin rasanya saya teriak, “Kenapa sih Abang masih kerja? Besok kita nikah loh!”. Sampai ketika ke bulan madu pun, masih saja dia menerima telepon dari kantor terkait pekerjaan. Sudahlah, tidak ada rasanya liburan. Hancur rasanya.

Sering saya mengeluh, begini banget sih di keuangan, belum lagi menghadapi orang-orang kantor yang Masha Allah mulutnya. Sering kali saya menangis, entah ketika lelah ataupun ketika berdo’a. Namun satu hal yang selalu saya ingat adalah orang tua saya, hingga Suami saya bilang,

“Kamu jangan kufur nikmat, jangan tidak bersyukur. Di luar sana ada ribuan orang ingin diberi kesibukan pekerjaan seperti kamu, di luar sana ada ribuan orang yang ingin diberi nikmat lelah karena mencari nafkah seperti kamu. Jangan mengeluh, nanti Allah murka dan mengambil semua nikmat-Nya”.

Astaga, rasanya seperti dihantam batu oleh Suami saya sendiri. Saya lupa diri, saya tidak percaya diri, saya merasa tidak pantas dan bahkan merasa tersiksa lama-lama disini. Bersyukur Tuhan berikan saya Suami seperti dia. Itulah mengapa saya jadikan dia role model di dunia kerja. Selain etos kerja yang dimilikinya, dia juga orang paling tidak bisa telat yang pernah saya temui selama ini. Sedetik saja terlambat, rasanya sudah seperti orang mau mati bagi dia. Malu setengah mati jika terlambat.. Ya itulah, bukan karena dia Suami saya jadi saya banggakan, namun memang saya bangga memiliki Suami seperti dia. Sampai sekarang saya belum melihat api semangat kerja pada orang lain seperti yang saya lihat pada Suami saya.

Mungkin memang saya belum benar-benar Bea Cukai bagi orang-orang, karena masih berkutat di keuangan hingga sekarang. Namun saya yakin, setiap pegawai di Bea Cukai ini memiliki sisi-sisi berbeda dan cerita unik masing-masing selama di Bea Cukai. Bukan perihal cinlok yang saya alami ya, namun perihal belajar memandang suatu hal menjadi rasa syukur tapi tetap ingat bahwa itu adalah tanggung jawab. Dan kebetulan itu saya dapatkan dari orang terdekat saya, yaitu Senior sekaligus Suami saya sendiri. Tidak apa-apa saya belum di tempatkan di bagian teknis, setidaknya disini saya memberi kebahagian orang-orang dengan kabar-kabar terkait gaji, THR, Premi Nasional, Premi Kantor, Tukin Tahunan, dan masih banyak lainnya.

Semoga semua yang membaca juga menyadari ya, kalau belum di teknis ya tidak apa. Rejekimu masih di situ berarti. Kalau sudah waktunya juga pasti rolling. Jangan lupa bersyukur dan selalu ingat tanggung jawab. Dan yang sudah di teknis, jangan meremehkan bagian supporting, karena belum tentu juga bisa memberikan hal yang sama jika kamu di posisi itu. Semoga semua selalu berbahagia akan apa yang dilakukan untuk sekarang, nanti dan seterusnya. Demi selalu mewujudkan Bea Cukai yang makin baik, dan menjadi pribadi yang makin baik pula.

#BeaCukaiMakinBaik

*Juara 2*

BAGIKAN