CAPAIAN KINERJA KANWIL BEA DAN CUKAI SULAWESI BAGIAN UTARA 2020

0
146
  1. Peran Sebagai Pemungut Penerimaan Negara (Revenue Collector)

 

Tabel Capaian Penerimaan 2020

 

No.

 

KPPBC

TOTAL PENERIMAAN
TARGET

(Rp)

REALISASI (Rp) CAPAIAN

(%)

1 BEA MASUK 201.623.784.000 203.124.926.003 100,74
2 BEA KELUAR 13.586.200.000 21.144.615.000 155,63
3 CUKAI 6.344.742.000 13.015.354.400 205,14
  TOTAL 221.554.726.000 237.284.895.403 107,10

Sumber : Kanwil DJBC Sulbagtara sd 13-12-2020.

Tabel Rincian Penerimaan Setiap Satuan Kerja

2020

 

No.

 

KPPBC

TOTAL PENERIMAAN
TARGET

(Rp)

REALISASI (Rp) CAPAIAN (%)
1 KPPBC TMP C Pantoloan 11.365.318.000 27.544.404.000 159,69
2 KPPBC TMP C Morowali 181.396.564.000 202.617.040.000 101,17
3 KPPBC TMP C Luwuk 331.500.000 425.677.000 103,52
4 KPPBC TMP C Bitung 14.344.627.000 14.967.460.270 100,66
5 KPPBC TMP C Manado 8.392.733.000 16.054.087.633 179,90
6 KPPBC TMP C Gorontalo 5.723.984.000 5.749.122.000 100,24
TOTAL 221.554.726.000 267.357.790.903 120,67

Sumber : Kanwil DJBC Sulbagtara sd 31-12-2020.

Dalam perannya sebagai revenue collector Bea dan Cukai mempunyai tugas melakukan pemungutan Bea Masuk dan Bea Keluar serta Cukai secara maksimal. Sampai dengan tanggal 13 Desember 2020 ini, realisasi penerimaan Kantor Wilayah Bea dan Cukai Sulawesi Bagian Utara (Sulbagtara) mencapai 120,67 persen yaitu sebesar Rp 267.357.790.903,00 melampui target yang dibebankan yaitu sebesar Rp 221.554.726.000,00.

Realisasi penerimaan tersebut terdiri dari Bea Masuk sebesar Rp 223.527.573.503,00 Bea Keluar sebesar Rp. 30.544.751.000,00, serta Cukai (Cukai Hasil Tembakau dan Minuman Mengandung Ethil Alkohol serta Cukai lainnya) sebesar Rp. 13.285.466.400,00.

Hal ini merupakan sebuah prestasi yang membanggakan bagi Kanwil Bea dan Cukai Sulawesi Bagian Utara karena keberhasilan dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pemungut penerimaan negara (revenue collector), selain mempunyai tugas dan fungsinya yang lain seperti perlindungan masyarakat (community protector), menfasilitasi perdagangan (Trade facilitator), dan assistensi terhadap industri (industrial assistance).

Keberhasilan Kanwil Bea dan Cukai Sulawesi Bagian Utara ini merupakan berkat sinergi bersama seluruh kantor bea cukai yang ada di lingkungan kanwil sulawesi bagian utara yaitu KPPBC (Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai) Manado, KPPBC Bitung, KPPBC Gorontalo, KPPBC Luwuk, KPPBC Morowali, KPPBC Pantoloan dan PSO (Pangkalan Sarana Operasi) Pantoloan.

Selain itu keberhasilan ini didukung pula oleh peran serta masyarakat dan dan kepatuhan stakeholder di wilayah kanwil sulawesi bagian utara.

2. Peran Sebagai Perlindungan Masyarakat (Community Protector).

Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Sulawesi Bagian Utara, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) Manado dan KPPBC Bitung terus berkomitmen menjalankan perannya sebagai community protector yaitu melindungi masyarakat dari barang-barang yang dibatasi/dilarang dan mengamankan keuangan negara melalui penegakan hukum dibidang kepabeanan dan cukai.

Dalam rangka mewujudkan komitmen tersebut dan tanggung jawab publik atas penyelesaian barang hasil penindakan, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Sulawesi Bagian Utara, KPPBC Manado dan KPPBC Bitung melakukan pemusnahan terhadap barang tangkapan hasil pelanggaran kepabeanan dan cukai dengan perkiraan barang senilai Rp1.076.590.400,00 (Satu Miliar Tujuh Puluh Enam Juta Lima Ratus Sembilan Puluh Ribu Empat Ratus Rupiah) pada hari Rabu, 25 November 2020.

Barang-barang  yang dimusnahkan merupakan hasil penindakan yang dilakukan oleh Bea Cukai bersama dengan TNI/POLRI, Kejaksaan, Pemerintah Daerah selama periode 2018 s.d. 2020dan telah mendapat persetujuan pemusnahan oleh Menteri Keuangan melalui Kantor WilayahDirektorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN). Adapun uraian barang-barang milik negara yang dimusnahkan berupa:

  1. 1.240.552 batang rokok ilegal dengan berbagai jenis dan merk.
  2. 9.997botol Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA)ilegal dengan berbagai

golongan dan merk.

Selain barang-barang milik negara di atas terdapat pula MMEA yang telah kadaluarsa dan tidak layak konsumsi sehingga atas barang tersebut akan dilakukan pemusnahan sebanyak 26.400 Botol.

Pemusnahannya dilakukan dengan cara dibakar pada tungku pembakaran untuk rokok dan digilas dengan alat berat untuk Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA). Dalam pelaksanaan pemusnahan ini tetap memperhatikan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19.

Barang yang dimusnahkan merupakan barang kena cukai yang ditindak karena melanggar Undang-Undang No. 39 Tahun 2007 tentang Cukai yaitu tidak dilekati pita cukai, dilekati pita cukai palsu dan juga bekas, serta dilekati pita cukai yang bukan peruntukkannya.

Keberhasilan dalam penindakan ini merupakan hasil sinergi Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Sulawesi Bagian Utara dan KPPBC dengan aparat penegak hukum lainnya yang terus berupaya melakukan penertiban secara berkesinambungan terhadap peredaran Barang Kena Cukai (BKC) ilegal.

3. Upaya Untuk Memaksimalkan Penerimaan Negara.

Untuk mengoptimalkan penerimaan negara, Kantor Wilayah Bea dan Cukai Sulawesi Bagian Utara melakukan program sinergi dengan Direktorat Jenderal Pajak. Hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan No. 481/KMK.01/2018 tentang program sinergi reformasi Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Ruang lingkup kerjasama antara bea cukai dan pajak meliputi  joint analisis, joint audit, joint collection, joint investigasi, joint proses bisnis, single profile dan secondment.

Melalui joint program ini diharapkan tercapainya sinergi yang efektif antara bea cukai dan pajak dan dapat pula menghasilkan suatu rekomendasi kebijakan yang dapat mendorong kepatuhan pengguna jasa atau wajib pajak. Dalam join program tersebut realisasi penerimaan telah mencapai 111,5 persen yaitu sebesar Rp 17.952.570.000 melampui target yang dibebankan  Rp 16.098.650.000  dengan program ini terbukti mampu untuk menambah penerimaan negara.

4. LAUNCHING DIRECT CALL EXPORT MANADO LANGSUNG JEPANG 23 SEPT 2020

Provinsi Sulawesi Utara merupakan provinsi yang memiliki kekayaan alam yang besar baik hasil pertanian, hasil perkebunan, hasil tambang maupun hasil kelautan dan perikanan. Selain itu, Provinsi Sulawesi Utara memiliki letak geografis yang sangat strategis dimana lokasinya di wilayah utara yang paling luar yang berbatasan dengan Negara Filiphina dan relative dekat dengan negara-negarasepertifiliphina, Jepang, China, Korea dan Vietnam. Keunggulan lain dari Provinsi Sulawesi Utara adalah telah memiliki infrastruktur yang cukup memadai dimana memiliki Pelabuhan Bitung dan bandara Sam Ratulangi dengan standard Internasional. Dengan demikian seharusnya provinsi Sulawesi Utara sudah siap untuk melakukan kegiatan perdagangan internasional yang mandiri dan tidak tergantung dengan wilayah lain seperti Jakarta atau Bali.

          Kekayaan alam yang melimpah dan didukung oleh letak geografis yang strategis ini ternyata belum bisa dimanfaatkan secara optimal khususnya terkait dengan perdagangan antar negara (eksport dan impor). Kegiatan ekspor dan impor khususnya terkait ekspor hasil alam seperti hasil pertanian dan kelautan serta perikanan selama ini tidak langsung dilakukan dari manado tetapi dilakukan melalui wilayah lain seperti Jakarta dan Bali. Khusus ekspor Kelautan dan perikanan Provinsi Sulawesi Utara yang melalui Bandara Sam Ratulangi, tujuan ekspor mayoritas adalah 80% ke Negara Jepang. Namun sangat disayangkan kegiatan ekspor yang dilakukan saat ini (sebelum direct call export), kegiatan ekspor harus melalui Bandara Soekarno Hatta di Banten dan bandara Ngurah Rai di Bali dan membutuhkan waktu sekitar 24 – 30 jam (termasuk waktu transit) agar barang tersebut sampai ke Jepang. Padahal secara letak geografis, Bandara Sam Ratulangi jauh lebih dekat dengan Jepang ( hanya 5.5 – 6 jam). Dengan demikian apabila ekspor dilakukan melalui Jakarta dan Bali maka akan terlihat barang ekspor bolak balik saja melalui kota Manado.Dampak lain dari kegiatan ekspor yang harusmelalui Jakarta dan Bali adalah

  • Biaya logistik yang tinggi karena waktu tempuh yang lama;
  • Kualitas barang Menurun karena lamanya waktu perjalanan;
  • Seringnya pembatalan ekspor yang diakibatkan tidak mendapat slot cargo dari maskapai

Semua hal diatas pada akhirnya akan “MENURUNKAN DAYA SAING” dari produk ekspor provinsi Sulawesi Utara dibandingkan dengan produk dari negara lain.

          Dalam rangka mendorong perkembangan dan daya saing produk provinsi Sulawesi Utara dan wilayah Indonesia Timur maka diperlukan “terobosan” yang memanfaatkan letak geografis, kekayaan alam yang melimpah khususnya perikanan dan infrastruktur yang sudah ada. Terobosan tersebut berupa adanya penerbangan langsung dari Bandara Sam Ratulangi menuju tujuan ekspor mayoritas provinsi Sulawesi Utara yakni Negara jepang (DIRECT CALL EXPORT). Penerbangan langsung ini sudah menjadi “mimpi lama” masyarakat Sulawesi Utara yang menghendaki barang ekspornya langsung menuju Jepang dan China karena dengan adanya DIRECT CALL EXPORT ini memberikan manfaat sebagai berikut:

  • WaktuTempuh yang hanya 5,5 – 6 jam
  • Turunnya biaya logistic;
  • Terjaminnya kualitas barang Export;
  • Adanya kepastian Slot Cargo.

Perjuangan untuk mewujudkan DIRECT CALL EXPORT ternyata tidak segampang membalikan tangan dan perlu extra effort untuk mewujudkan keinginan diatas. Oleh sebab itu, Kantor Wilayah DJBC Sulawesi Bagian Utara beserta jajaran sejak awal menginginkan agar DIRECT CALL EXPORT ini bias segera terwujud terutama untuk ekspor Produk Perikanan. Untuk mewujudkan DIRECT CALL EXPORT maka Kantor Wilayah DJBC Sulbagtara beserta jajaran melakukan “sinergi” dengan semua instansi yang terkait di provinsi Sulawesi Utara seperti BKIPM Manado, PemerintahProvinsi Sulawesi Utara, Komandan Lanud Sam Ratulangi, Para Eksportir, AngkasaPura, Otoritas Bandara serta para Agen penerbangan.

Sinergi antar instansi tersebut yang didukung penuh oleh Gubernur Sulawesi Utara dan Pimpinan Garuda Indonesia, telah melakukan serangkaian kegiatan pertemuan dan koordinasi baik secara informal maupun formal untuk mewujudkan “Mimpi” masyarakat Sulawesi Utara tersebut yang pada akhirnya disepakati bersama sebagai berikut :

  • kegiatanDirect Call Export secara perdana akan dimulai pada hariRabu, 23 September 2020
  • diawal akan dilakukansekali dalam satu minggu disetiap hariRabu;
  • menggunakan Pesawat Airbus A330-200
  • Flight Number GIA – 8800 / GIA-8810dengan ETD 23.40;
  • Perkiraan waktu tempuh 5.5 s.d 6 jam
  • Batas Minimum daya angkut sebanyak 5 Ton
  • Batas maksimum daya angkut sebanyak 15 Ton

Dengan adanya DIRECT CALL EXPORT maka selain manfaat berupa kecepatan waktu pengiriman dan terjaminnya kualitasbarang, Eksportir akan diuntungkan dengan menurunya biaya logistic dengan perkiraan sebesar35% s.d 50%. Besarnya penurunan biaya logistic ini tentu saja akan berpengaruh terhadap Daya Saing Produk Sulawesi Utara di Negara Jepang.

Harapan selanjutnya setelah ekspor perdana ini adalah

  • Kegiatan Direct Call Export ini akan terus berkesinambungan
  • Jumlah penerbangan bias diperbanyak (tidak hanya satu kali satu minggu tapi bias lebih dari satu kali dalam satu minggu);
  • Terbentuknya Interkoneksi yang menghubungkan bandara Sam Ratulangi dengan bandara didaerah Indonesia Timur dan Tengah seperti Makasar, Gorontalo, Ternate, Luwuk, Ambon dan Sorong;
  • Direct Call Export tidak hanya ke Negara Jepang tapi bias juga ke Daerah Utara Lainnya seperti China, Korea Selatan, Filiphina dan Honolulu;
  • Bandara Sam Ratulangi pada akhirnya akan menjadi “SUPERHUB” untuk wilayah Indonesia Timur dan Tengah sesuai yang diinginkan oleh Presiden Joko Widodo dan tentunya masyarakat Sulawesi Utara.

Dengan adanya direct call ekspor ini harapannya adalah perekonomian Sulawesi Utara semakin baik dan kesejahteraan masyarakat menjadi lebih baik.*****

BAGIKAN