Focus Group Discussion Peluang Ekspor Produk Perikanan Dari Kawasan Timur Indonesia ke Jepang

0
148

Bea Cukai berkomitmen untuk meningkatkan ekspor hasil perikanan ke Jepang menyusul tingginya potensi serapan konsumsi penduduk Jepang. Hal ini terlihat dari hasil survey konsumen oleh Japan Fish Agency (2013), bahwa lebih dari setengah (55 persen) konsumen Jepang mengkonsumsi ikan setidaknya 2-3 kali seminggu. Hal ini dikemukakan saat Focus Group Discussion (FGD) “Peluang Ekspor Perikanan dari Kawasan Timur Indonesia ke Jepang” yang diselenggarakan oleh perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara secara virtual pada kamis (25/03/2021).

Kepala Kantor Wilayah Bea dan Cukai Sulawesi Bagian Utara (Sulbagtara) Cerah Bangun, menyebutkan bahwa peningkatan ekspor ke Jepang didukung oleh Direct Call Ekspor langsung ke Jepang, yang sampai saat ini telah terlaksana 26 kali pengiriman dengan tonase 402.2 ton, devisa USD 3,444,398.38 sejak direct ekspor pertama diluncurkan pada 23/09/2020, dengan komoditas utama ikan tuna.

“Direct Call Ekspor mendorong kinerja ekspor karena adanya kepastian slot cargo, kualitas barang terjaga, waktu tempuh singkat sehingga biaya logistik lebih murah” ungkap Cerah.

Wakil Gubernur Sulut, Steven Kandouw, menyatakan bahwa dalam mewujudkan Direct Call Ekspor perjuangan yang dilalui tidaklah mudah demi kemakmuran masyarakat.

“Sosialisasi diperlukan agar pelaku usaha mengetahui dan memanfaatkan bandara samratulangi manado sebagai pintu gerbang direct call ekspor ke Jepang dan Singapura” Ungkap Steven.

Peluang ekspor perikanan ke Jepang sangat terbuka karena Jepang merupakan pasar terbesar di dunia untuk tuna, terutama untuk spesies bernilai tinggi seperti Bluefin, Bigeye dan Albacore. Berdasarkan laporan Euromonitor 2017, konsumsi seafood segar Jepang mengalami trend penurunan. Pada tahun 2007, konsumsi seafood Jepang mencapai 5,1 ribu ton, namun pada tahun 2017 konsumsinya menurun menjadi 3,7 ribu ton. Pada tahun 2017, konsumsi seafood segar Jepang didominasi oleh ikan sebesar 2,5 ribu ton, dan diikuti oleh moluska dan crustacea dengan volume masing-masing sebesar 748 ton dan 472 ton. Namun, konsumsi seafood segar Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

Sementara itu, Atase Perdagangan Jepang, Arief Wibisono, mengemukakan bahwa untuk segmen ikan segar, ikan bluefin tuna memiliki harga tertinggi dibanding dengan ikan tuna lainnya. Pada tahun 2020, harga bluefin tuna segar dapat mencapai JPY 1.586/Kg. Tuna Albacore memiliki harga yang paling rendah, yaitu seharga JPY 355/Kg pada bulan yang sama. Sementara itu, harga bigeye tuna dan yellowfin tuna masing-masing seharga JPY 745/Kg dan JPY 762/Kg.

“Jepang menerapkan standar yang tinggi untuk produk perikanan untuk menjamin keamanan dan mutu makanan” Kata Arif.

Sementara itu Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, Arbonas Hutabarat, menyebutkan bahwa untuk meningkatkan kinerja ekspor perlu dibangun komunikasi dan pertemuan antara asosiasi pengusaha perikanan dengan calon eksportir untuk bersama-sama melakukan ekspor untuk memenuhi pasar ekspor Jepang. Selain itu perlu adanya pelatihan ekspor yang diikuti oleh eksportir/calon eksportir dan instansi terkait sehingga mengetahui dan memahami ketentuan ekspor.

“Untuk peningkatan ekspor perlu pemetaan yang lebih detil, produsen, konsumen, pasar, komoditi dan adanya bisnis matching  sehingga dapat menyejahterakan masyarakat.” sebut Arbonas.

Turut serta dalam FGD secara virtual antara lain Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tokyo, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Gorontalo, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Papua Barat, Kepala Kantor Bea Cukai Manado, Kepala BKIPM, GM Angkasa Pura 1 Manado, Instansi Pemerintah Pusat / Daerah, eksportir dan calon eksportir.*****

BAGIKAN