Nusa Utara Kaya Hasil Rempah, Total Ekspor Capai 28 Juta Kilogram

0
81

MANADOPOST-ID— Tidak hanya ikan segar, ternyata daerah Nusa Utara, mulai dari Talaud, Sitaro, Sangihe adalah daerah yang banyak menproduksi hasil rempah-rempah.

Bahkan, berdasarkan data kantor Bea dan Cukai Manado, selang 2019- 2020 ekspor komoditas rempah-rempah yang berasal dari Sangihe, Talaud dan Sitaro mencapai total FOB USD 210.653.414, dengan tonase 28.806.454,76 Kg.

Sehingga konektivitas laut antara Sangihe-General Santos menjadi peluang baru untuk meningkatkan kegiatan ekspor.

Netty Muharni, Asdep Kerjasama Ekonomi Regional dan Sub-Regional, mengungkapkan bahwa konektivitas laut merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan konektivitas yang menghubungkan Indonesia dengan negara lain.

Dia menuturkan Berdasarkan study kelayakan ASEAN Ro-Ro dan Pelayaran Jarak Pendek yang dilakukan oleh JICA (2012), ada tiga rute prioritas terdapat di Indonesia yaitu Bitung-Davao (Launch 2017), Dumai-Malaka (Target 2022), Belawan-Penang-Phuket.

“Peluncuran perdana konektivitas laut rute Bitung-Davao/General Santos pada 30 April 2017 di Pelabuhan Kudos, Davao oleh presiden Joko Widodo dan Presiden Duterte.

Di kesempatan yang sama Kakaknwil Bea Cukai Sulbagtara Cerah Bangun membeber, tantangan yang dihadapi dalam pembukaan rute ini diantaranya mekanisme pelaksanaan CIQ dan hubungannya dengan status Pelabuhan, integrasi trayek kapal perintis dan Tol laut, Aspek kelaikan dan keamanan dari kapal, operasional kapal/operator (agen pelayaran),serta mekanisme pemanfaatan BMD.

Dari sisi potensi perdagangan, wilayah Sangihe memiliki komoditas ekspor berupa ikan Tuna dan Rempah-rempah (Pala dan Lada). Permintaan ikan Tuna dari Filipina tinggi dan harga jualnya lebih tinggi dibanding pasar domestik. Untuk komoditas rempah-rempah terdapat peluang perdagangan dengan kawasan sekitar yaitu Maluku dan Sulawesi. Tantangannya adalah menjaga kualitas, kuantitas dan kontinuitas dari perdagangan ekspor.

Adapun komoditas impor berupa produk elektronik, hortikultura dan farmasi.
Disisi lain, peluang peningkatan bidang pariwisata, Pendidikan dan mengurangi pengangguran terbuka lebar, diantaranya WNI (Warga Negara Indonesia) yang memiliki paspor di wilayah Sangihe saat ini mencapai 4.000-5.000 jiwa, sementara di Filipina bagian selatan terdapat 3.000-4.000 WNA (Warga Negara Asing) yang berpotensi melakukan perjalanan ke wilayah Indonesia. Hal ini mendorong bisnis people to people.

“Hal ini mampu mendorong dibukanya konektivitas perdagangan langsung Sangihe – General Santos sehingga membangkitkan potensi ekspor daerah dan menjadi langkah bersama untuk bersinergi meningkatkan ekspor demi pemulihan ekonomi nasional akibat dampak pandemi Covid-19,” tutupnya.

(ayu)

Nusa Utara Kaya Hasil Rempah, Total Ekspor Capai 28 Juta Kilogram

BAGIKAN